Tanpa disadari, badan yang sehat bisa sakit. Kemudian, banyak diantaranya yang sakit menjadi sehat kembali. Begitu seterusnya. Hingga manusia menyadari perbedaan jelas diantara keduanya. Perbedaan kondisi hatinya. Saat kuatnya, maupun saat rapuhnya. Keduanya jelas menjadi mata pelajaran yang begitu berharga untuk dipahami, dan sekedar menjadi tindakan. Sehat dan sakitnya badan, nampaknya seringkali tak sejalan dengan sehat dan sakitnya hati maupun akal. Banyak yang tatkala sehat badannya, justru sakit hatinya. Tak mampu merasa dengan bening. Acuh terhadap kondisi di sekitarnya. Menjadi manusia yang kurang manusiawi. Namun, ketika sakit mendatanginya, justru menjadi sehatlah hatinya. Terbuka mata hatinya. Banyak mengingat Rabbnya. Maka, bersyukurlah yang mampu menjaga kesehatan hatinya. Baik sedang sehat, maupun didatangi penyakit.

Antara Sehat dan Sakit

Jumat pekan lalu, 17 Muharam 1432H. Masih suasana hijrah. Suasana tahun baru. Bersama beberapa saudara saya. Nash, Tya, Ria. Menjenguk dosen kami, guru kami, penunjuk jalan kami, pemberi nasehat kami, juga menjadi jalan datangnya kebaikan bagi kami, DR Iwan Bambang Yusuf Lelana. Pak Iwan, begitu kami akrab menyapanya. Dan tentu, seperti yang sudah kami tunggu-tunggu, ada banyak hikmah dari kunjungan ini.

Sebelum menceritakan hikmah yang menarik, mungkin suatu ketika saya menulis sesuatu yang agak memprihatikan. Saya, sebagai mahasiswa yang sudah lama berada di kampus. Merasakan betul-betul bahwa banyak kebaikan esensi yang belum dilakukan. Mungkin ini juga dirasakan beberapa mahasiswa sebaya, kakak angkatan maupun adik angkatan. Yang sedemikian pentingnya, bisa begitu saja terlupakan. Ya, kami hanya mengenal dosen kami, guru kami (secara keseluruhan), dibangku kuliah saja. Tak tahu dimana beliau tinggal. Tak mengerti bagaimana kondisi keluarga beliau-beliau. Tak mengunjungi rumahnya ketika bulan Syawal tiba. Ya, hubungan kami hanya diujung bangku perkuliahan. Kalaupun ada beberapa hal yang lebih baik, itu masih sedikit. Tak banyak.

Meski sakit datang pada badannya, namun hati dan akalnya jelaslah tercermin kuat bahwa tetap sehat. Menunjukkan bagaimana beliau mampu menjadi peneduh bagi kami, mahasiswanya. Dan kamipun, merasa nyaman didekatnya. Sungguh, karunia Sang Khaliq datang dirangkai dalam kekuatan aqidah yang kuat dan saling menguatkan. Senyumnya tak hilang dari raut wajahnya menyapa dan menyemangati kami, meski stroke telah membuat kaki kirinya belum bisa digerakkan. Sapaannya yang ramah, menanyakan kabar kami, sudah membuat lebih dari cukup rasa syukur kami dapat kenal dengan beliau. Tanpa terasa, nasehat demi nasehat mengalir dari tutur beliau. Dan masuk kedalam hati kami, melalui telinga yang awas dan mata yang memperhatikan.

  1. Ternyata kami datang diwaktu yang tepat. Jam menunjukkan sekitar pukul setengah 5 sore. Dan beliaupun baru terbangun dari istirahatnya. Baru saja. Jadi kedatangan kami tak mengganggu beliau. Dan beliaupun juga merasa ada keterkaitan dengan mimpi yang baru saja diperolehnya. “Sebelum kalian datang, saya bermimpi akan ada sebuah penelitian. Pesisir pantai ialah dataran landai yang memiliki potensi banyak dan cukup beragam. Kira-kira, potensi tanaman apa yang bisa tumbuh dan bermanfaat disana? Maka saya pun berfikir, bagaimana kalau Bambu? Coba diteliti kecepatan tumbuhnya, prospeknya, dsb”. Dan beliaupun terbangun, karena ada tamu. Dan ternyata, kami berempat.
  2. Kemudian beliau menjelaskan kepada kami, bagaimana rasa syukur yang begitu dasyat pengaruhnya dalam kehidupan kita. Rasa syukur ialah pekerjaan yang bisa datang kapanpun kita inginkan. Baik saat mendapatkan karunia, maupun musibah. Rasa syukur menjadi energi yang tak habis-habisnya digali. Bahkan semakin digali, akan semakin besar energinya. Mudahkah? Belum tentu. Namun hasilnya? Jelas paten.
  3. Menjadi sukses dan berhasil ialah dambaan setiap manusia. Namun definisinya bisa berbeda pada setiap manusia. Bahkan lebih banyak berbeda. Tingkat kepuasannyapun juga berbeda. Namun caranya? Justru relatif memiliki pola yang hampir sama. Kesungguhan. Kerja keras. Tak kenal putus asa. Menjadi logika klop pada setiap kesuksesan dan keberhasilan.
  4. “Badan boleh sakit. Silahkan saja kaki tidak manut. Tapi hati dan akal tetap kuat”. Ini menjadi instrumen kebaikan yang mengalir tak habis-habisnya. Pada saat sakit, sama dengan pada saat sehat, dalam bersemangat melakukan kebaikan. Hanya mungkin berbeda model kebaikannya

Subhanallah. Begitu dalam dan senantiasa tepat yang dibutuhkan kami. Tentunya, pertemuan yang tidak pernah kami rancang sebelumnya ini, tak berjalan begitu saja. Ada Sang Pengatur Skenario yang merancang sedemikian rupa setiap kejadian menjadi begitu banyak kebaikan yang tersemai. Dan manusiapun, sekali lagi diarahkan kepada jalanNya. Terus dan terus. Begitulah cara Dia mendidik kita.

Terima kasih Pak Iwan. Semoga lekas sembuh dan mendidik murid di kampus, hingga tak hanya menjadi orang yang cerdas, tapi juga berakhlak mulia.

Wallahu’alam bis shawab

 

Krapyak, 19 Muharam 1432H – 26 Desember 2010

09:26 WIB – GMT+7

Advertisement