Kadang berat rasanya, memang. Merasakan hal yang agak asing bagi kita. Meskipun sebenarnya tidak benar-benar asing. Namun karena segala keterbatasan yang dimiliki, kita menganggapnya asing. Atau mungkin pura-pura menganggapnya asing. Karena kita memang terbiasa dengan lingkungan yang diselimuti kepura-puraan. Kepalsuan kalau dengan bahasa yang lebih tegas. Namun apalah artinya, karena sifat lingkungan ini memang fana atau palsu. Lantas, bagaimana kita berinteraksi dengannya? Apakah kita ikut-ikutan menampilkan kepalsuan? Sehingga yang terjadi adalah kepalsuan berbalas kepalsuan? Tidak, itu bukan hal yang sebenarnya dilakukan. Baik dan benar menjadi lebih jelas dengan tambahan prefiks sufiks. Kebaikan dan kebenaran. Ya, keduanya akan maujud disekitar kita. Namun kita tidak sedang membicarakan itu. Belum saatnya. Kita tidak sedang membicarakan sebuah tujuan akhir. Namun kita membicarakan realita. Krisis realita, kalau boleh dibilang begitu. Apa itu? Ia adalah sebuah kata kerja. Ya, ia adalah bersyukur.
Bersyukur itu Perlu
Dengan sebuah keyakinan, bahwa watak generasi yang mengarungi zaman itu akan berulang. Boleh jadi, alasannya ialah sejauh apapun akal manusia telah berkembang, dia tetaplah manusia. Yang memiliki cara pandang yang khas. Dan itu diwariskan dari generasi ke generasi. Terus begitu. Dalam hal ini, saya cukup merasakan pengalaman, hal apa yang saya temui, dan perasaan apa yang saya rasakan, kemudian tindakan apa yang saya ambil, boleh dibilang memiliki pola yang cukup sama dibandingkan generasi saya sebelumnya. Ayah saya misalnya, termasuk Ibu saya. Bahkan hingga Kakek dan Nenek saya. Setelah coba awam menelusuri, cara pandang ini sangat khas dan membentuk kepribadian kita saat ini. Oleh karena itu, jika ingin mengenal diri kita, bisa dari mengenal siapa generasi sebelum kita. Siapakah mereka. Bagaimana mereka hidup. Bagaimana mereka berfikir. Dan yang juga tidak kalah menarik untuk digali, apa angan-angan mereka. Ini menarik, karena boleh jadi angan-angan mereka ternyata tidak berbeda jauh dengan angan-angan kuat kita. Dan boleh jadi, kita mewarisi angan-angan kuat mereka. Bahkan ditangan kitalah angan-angan itu terwujud.
Namun demikian, pikiran manusia yang sering terganggu dan lemah adanya, tidak mampu konsisten dalam menjalan hatinya. Karena hati yang lebih sering terbolak balik, menjadikannya rapuh dan mudah putus asa. Padahal? Tidak demikian kesimpulannya. Analogi cekak saya dalam hal ini, hati manusia seperti martabak. Martabak itu dimasak dengan digoreng dengan wajan flat. Kalau tidak dibolak balik, justru akan gosong di satu bagian. Maka martabak dibolak balik agak matang merata di seluruh sisinya. Begitu pula dengan hati manusia. Dengan dibolak baliknya hati, seharusnya manusia menjadi matang dalam menghadapi saat keimanan sedang naik dan lihai menyiasati saat keimanan sedang turun. Jadilah manusia matang di seluruh sisinya. Seperti martabak. =D
Namun apakah itu semua mudah? Tidak juga. Mengapa menjadi tidak mudah? Salah satu penyebabnya ialah, manusia kurang pandai bersyukur. Bisa dibilang, keahlian bersyukur ialah keahlian yang mahal harganya. Mahal pelatihannya. Banyak tantangannya. Tapi paten hasilnya. Kita sangat bisa belajar dari satu sisi kehidupan Nabiyullah Ibrahim as. Sama halnya dengan karakter dasar manusia, yakni ingin memiliki keturunan. Ingin memiliki binaan. Ingin mewariskan apa yang dimilikinya. Hingga mencapai waktu yang tidak sebentar. Dan apa yang dikatakannya? “Usia saya telah senja. Dan saya tidak berhenti untuk bersyukur kepada Allah. Dan tidak berhenti untuk memohon keturunan”. Apakah mudah? Tidak juga. Model manusia pemimpin itu cobaannya memang khusus. Tidak umum, istilah pasarnya. Karena yang mampu menanggungnya juga bukan sembarang orang. Jalur kehidupannya memang tidak datar-datar saja. Namun penuh dengan lika dan liku. Apa hikmahnya? Agak bisa diteladani oleh orang kebanyakan. Luar biasa Nabi Ibrahim as. Apa doanya setelah memiliki keturunan? Beliau memohon, agar keturunannya termasuk orang yang shalat. Subhanallah. Permintaan (doa) yang terdengar awam sepele, namun tidak sebenarnya.
Dan syukur itu perlu diuji. Ujiannya sangat beragam dan sangat khas. Tentunya dalam pandangan manusia, bergantung dari kebaikan dan kemaksiatan yang dilakukan dimasa lampau. Karena sekecil apapun perbuatan manusia yang telah lalu, akan banyak mempengaruhi kehidupan setelahnya. Dan tentunya, setiap kejadian yang dialami tidak berdiri sendiri. Variabelnya sangat banyak. Mulai dari variabel yang sifatnya pribadi, maupun yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya, maupun pula alam disekitarnya. Kosmos itu satu. Dan setiap yang ada di dalamnya itu akan saling mempengaruhi. Maka setiap persoalan sepele, menjadi tidak sepele sebenarnya. Namun manusia lebih senang dengan hal yang sifatnya mudah-mudah. Sah-sah saja. Itu kan karakter manusia.
Memahami bahwa rasa syukur itu sangat esensial, sangat mendasar, menjadi tidak mudah. Lagi-lagi disinggung, bahwa kegemaran buruk manusia untuk hal yang sifatnya palsu dan pura-pura, menjadi penghalang. Kebiasaan buruk berpura-pura, menjadi sulit untuk dihilangkan, lebih-lebih tanpa kemauan yang kuat. Jargon 3Mulai dari Syaikh Aa’ Gym menjadi menarik. “Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang”. Bukan sebuah jargon yang remeh. Namun ia menjadi tangan yang tepat untuk sebuah perubahan. 3 poin yang bisa diambil dari jargon itu.
-
Mulai dari yang kecil
Manusia merasa memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Kadang manusia merasa tidak pernah mengecap kemampuan baik barang sedikitpun. Ironi memang. Kemampuan merasakan hal yang kecil ini menjadi hilang, tatkala manusia lebih senang mengerjakan apa-apa yang didepan mata tampak besar. Tampak istimewa. Dianggap akan banyak bermanfaat bagi khalayak. Namun apakah anggapan ini selalu benar? Tidak juga. Hal yang kecil, tampak sepele akhirnya urung dikerjakan. Menyiapkan hal yang besar, yang dianggap akan besar, pada akhirnya justru tidak terkerjakan. Lantas? Jangankan hal besar, hal kecil saja tidak dapat. Nah, kesimpulan yang mengarah pada kelirupun timbul. Maka, bagaimanapun, biasakan dari yang kecil dimata kita. Karena kitapun tidak tahu, apakah ia benar-benar kecil. Dengan mengerjakannya, misteri itu akan terkuak. Oh, ternyata hal yang kita sangka kecil, namun efeknya justru besar diluar kepalang. Sebaliknya, berpayah-payah mempersiapkan hal yang dirasa besar, tanpa pemahaman yang kuat, menjadikannya kecil dampaknya. Ya, dimulai dari hal yang kecil. Besaran besar kecilnya, kita bisa mengukurnya sendiri kok.
-
Mulai dari diri sendiri
Ini hal yang juga tidak mudah. Karena lebih mudah memandang indah halaman orang lain, dibanding memandang diri sendiri. Lebih-lebih kebiasaan buruk berpura-pura tadi, menjadikan manusia kurang fair. Menggebu-gebu ingin menjadikan orang lain baik, tapi dirinya sendiri tak berubah, tidaklah mengapa. Langkah pertama yang harus diasah ialah, jujurlah pada diri sendiri. Perdalam lagi perasaan ini pada waktu shalat-shalat kita. Ibadah-ibadah kita. Saat-saat dimana manusia dekat dengan Sang Khaliq. Ini permulaan. Karena selanjutnya akan dilakukan kapanpun dan dimanapun. Apapun itu, mulai dari diri sendiri. Saya sendiri melihat lingkungan saya justru sebaliknya. Aluwung tandangi dhewe tinimbang kongkon wong liyo. Awal semangatnya bagus. Tapi alih-alih tidak tumbuh di rel yang semestinya, justru perasaan yang timbul ialah nggrundel juga ngrasani wong liyo. Whatever, mulai dari diri sendiri dengan jujur itu menjadi batu loncatan yang tepat.
-
Mulai dari sekarang
Apa lagi problemnya? Menunda-nunda. Menyangka waktu yang dimiliki masih panjang. Padahal? Jelas tidak demikian.
Perbuatan bersyukur dan perasaan mensyukuri ibarat beli HP dapat baterenya. HP digunakan untuk peruntukannya, batere sebagai energinya. Keduanya tidak akan lepas, akan senantiasa saling kait mengkait. Ada perbuatannya, akan timbul perasaannya. Keduanya akan saling berbagi dan saling menguatkan. Oleh karena itu, setiap perbuatan akan dilandasi oleh sebuah ide. Namun setiap perbuatan yang telah dilakukan, akan mengembangkan ide sebelumnya, bahkan melahirkan ide baru. Juga kemudian tentunya perbuatan atau tindakan baru. Bersyukur menjadi lebih dari sekedar perlu.
Wallahu’alam bis shawab
_BagusKelana
Krapyak, 17 Muharam 1432H – 24 Desember 2010
09:40 WIB – GMT+7

Leave a comment
Comments feed for this article