Apa yang begitu sering kita rasakan tatkala bertemu dengan orang yang belum banyak kita kenal? (meskipun juga orang yang telah lama berinteraksi dengan kita, tak menjamin sepenuhnya benar-benar kita kenal). Ya, ada perasaan itu. Perasaan yang membentengi kita. Dengan dalih umum, menjaga diri. Kalaupun dengan alasan yang lebih santai, malas. Perasaan yang membuat kita kerdil sebagai manusia. Perasaan yang justru memenjarakan kita dalam ruang yang tidak manusiawi. Hasilnya? Tak banyak kita berkembang. Tak banyak kita sadar dan paham sepenuhnya. Setidaknya, tak banyak hal yang lebih baik dari diri kita sebelumnya.
Curiga, Penyakit Antar Manusia
Masih banyak hal yang diceritakan untuk menunjukkan, bahwa memang kita lemah dari pengetahuan diri sendiri. Penjara kelemahan diri meman terlalu asyik untuk terus didiami. Bayangkan saja, tatkala diri kita berada di dunia yang begitu luas dan bebas. Tak dibekali kemampuan apa-apa. Ada perasaan bingung. Frustasi. Seakan tak tahu bagaimana harusnya hidup. Ya, tapi hidup haruslah tetap berjalan. Tidak seolah berjalan tapi nyatanya tak berpindah. Jalan ditempat. Namun kemudian diberi tawaran untuk tinggal disebuah tempat yang nikmat. Nyaman memang. Diberi makan rutin. Kebutuhan mandi cuci kakus telah dipenuhi. Dan kita bisa sedikit bebas melakukan hal apapun. Dimanakah tempatnya? Ya, kita kenal dengan nama penjara.
Bagaimanapun indahnya penjara. Nyamannya fasilitas yang ditawarkan. Tetap anehlah pabila memilihnya. Maka, setiap penghuninyapun berharap. Suatu saat nanti. Dan akan tiba masanya. Akan keluar. Akan menghirup udara kehidupan sesungguhnya. Bukan kebebasan. Saya lebih suka dengan istilah kemerdekaan.
Ya, merdeka berarti siap untuk tumbuh. Ibarat sekuntum bunga, masih malu-malu dia. Masih menutupi keindahannya. Namun perlahan pasti, satu persatu kelopaknya mekar. Hingga seluruh kelopaknya mekar, membentuk satuan-satuan keindahan dan keagungan. Bukan bebas mekar. Kalaulah kelopak-kelopak tadi bebas membuka, jadilah dia bunga yang justru tidak karuan. Kebebasan itu haruslah mengikuti sesuatu. Sebuah pedoman. Dan bungapun tahu akan pedoman itu. Maka ia menikmati kemerdekaannya. Dan mekar. Indah nian.
Boleh jadi, inilah yang membuat rasa curiga tidak kunjung sembuh. Masih adanya sangkaan sangkaan negatif. Beban-beban psikis yang ditanggungnya sendiri. Disangkanya dirinya sanggup menanggungnya. Nyatanya, lebih sering tidak. Rasa curiga yang tidak kunjung terobati, menjalar menjadi sebuah ketakutan sosial. Yang berujung pada perasaan kesendirian. Tidak percaya, dan juga egois yang memuncak. Sejatinya memiliki potensi yang luar biasa, namun karena overprotective justru layu sebelum akan berkembang. Dan sifat curiga hanya diam membisu. Melihat tuannya lemah tak berdaya.
Bagaimana ini bisa terjadi? Sekat-sekat manusia tidak mengajarkannya banyak hal. Awam disimpulkan: malas untuk belajar. Malas untuk sekedar merenung sejenak. Bahwa manusia adalah satu kesatuan. Yang tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Bahkan padanya terkandung titah untuk juga menyatu dengan alamnya. Jelas tak akan pernah sendiri. Dalam kondisi apapun, selalu ada peluang-peluang kebersamaan. Namun hanya sedikit yang mengambilnya. Sisanya? Masih nyaman berada di dekapan penjara. Sekat manusia memang suatu hal yang umum terjadi. Saya lebih suka menggunakan kata fitrah. Karena memang kesesuaiannya dengan kondisi yang hendak ditangkap. Sekat-sekat ini bukanlah penghalang kebaikan. Apalagi musuh yang harus dienyahkan. Jelas, sama sekali tidak! Lantas? Belum tahu
Mudah saja mengatakannya, “berkomunikasilah. Maka hilang kecurigaan”. Jelas, awal solusinya bisa sesederhana itu. Namun pangkalnya? Tidak sesederhana itu. Membutuhkan lebih banyak penggalian untuk menemukan jawabannya. Namun demikian, komunikasi menjadi tangan yang ampuh dalam setiap hubungan. Dengan komunikasilah, bisa terjalin transfer pandangan. Setidak-tidaknya, untuk mengurangi kecurigaan. Namun untuk menghilangkannya? Jelas belum cukup. Komunikasi yang bagaimana dulu? Terlalu sering berkomunikasi alih-alih menjadi akrab, justru hubungan tak menjadi sempurna. Karena tak ada yang meningkat, selain kesan akrab biasa. Namun selebihnya? Masih perlu banyak tambahan. Sebaliknya, jarang komunikasi tentunya akan mudah menimbulkan kecurigaan-kecurigaan baru. Yang pada akhirnya justru dampaknya tidak mengenakkan.
Zaman ini telah melahirkan sedikitnya 5 milyar manusia. Kita tidak pernah membayangkan, seberapa besar jumlah ini. Dan yang pasti, jumlah ini belum pernah tercatat dalam sejarah sebelumnya. Boleh jadi awam dikatakan, setiap masa akan melahirkan rekor baru. Alih generasi, semakin banyak manusia yang hidup. Dan semakin banyak makna kehidupan tergali dari lubangnya. Semakin banyak hikmah yang terbangun dari tidur panjangnya. Menanti manusia-manusia baru yang hendak mencari hal yang baru dari kehidupan dunia. Berusaha mencari kebijaksanaan yang dulu pernah berdiri di muka bumi, namun hilang ditelan bumi karena ketiadaan generasi yang mewarisinya. Atau bahkan berusaha melahirkan kebijaksanaan baru yang belum pernah hidup di muka bumi.
Jelaslah, 5 milyar manusia bukanlah jumlah yang sedikit. Untuk ukuran uang bermata rupiah saja misalnya, itu adalah jumlah yang fantastis. Bisa menghidupi sekian banyak keluarga. Lepas dari variabel serba kurang atau sifat ketamakan. Kemudian pertanyaannya? Bagaimana antar manusia yang sedemikian banyaknya ini membangun sebuah hubungan? Rasa syukur kita dimulai dari sini. Alhamdulillah. Sang Khaliq telah menciptakan berbagai media di zaman ini. Dan tentunya yang paling masyur diantara kesemuanya ialah, internet. Ia telah bertindak menjadi tangan teknologi yang mampu menghubungkan antar pikiran manusia. Dan dimasa depan, perannya saya kira tidak berkurang. Justru sebaliknya. Namun pertanyaannya kembali. Apakah ini bisa menghilangkan, atau setidaknya menurunan kecurigaan? Tidak juga. Pandangan memang dapat terbagikan. Ide memang dapat saling diketahui. Namun keinginan manusia untuk mempertahankan sekat-sekatnya, masih demikian tinggi. Jelaslah. Dalam hal ini awam dikatakan. Sang Khaliq telah menunjukkan jalanNya. Namun sedikit manusia yang menempuhnya. Setidaknya berusaha mempelajarinya. Sentimen yang timbul dari sekat antar manusia itu telah sedemikian tebalnya. Meski perlahan, ia terkikis. Kemudian? Apakah nantinya jika sentimen yang tebal tadi hilang terkikis, meski tersekat manusia akan menjadi manusia? Dalam hal ini saya mengatakan: ya! Namun ini termasuk kategori sebuah kondisi di masa depan. Yang pasti akan terjadi. Bukan tugas kita untuk mengulasnya. Tugas kita adalah mencari jalan bagaimana menuju kesana.
Sekali lagi, 5 milyar manusia telah membawa dunia pada sebuah kondisi. Asimilasi pandangan dan budaya telah membuat manusia menjadi makhluk yang satu. Bagaimanapun, komunikasi akan mendekatkan manusia pada jatidiri manusia. Namun, boleh jadi bukan itu hal terbaik yang saya temui. Ada yang lebih baik lagi dari itu? Ya. Bukan berarti komunikasi dihilangkan, tidak. Tapi setelah komunikasi dilakukan, masih ada lagi yang dilakukan. Yakni mempercayai.
Sesuai dengan jenis katanya, ia adalah kata aktif, bukan pasif. Ia berarti sebuah tindakan. Sebuah kerja nyata. Dirasakan dampaknya. Dan memang begitulah adanya. Ya, mempercayai masuk dalam kategori kata terindah yang kita temui. Karena itu berarti banyak hal.
Masih ada lagi kata dasyat selanjutnya? Jawabannya, masih. Jelaslah, jika kata ini telah lahir diantara manusia, maka perjalanan panjang umat manusia yang berdiri di muka bumi ini akan selesai. Kata itu ialah: ridha.
Tidak diragukan lagi, belenggu kecurigaan yang ada diantara manusia haruslah dihilangkan. Biarkan sifat itu bekerja untuk mendidik kita. Tapi jangan biarkan kita membawanya. Cukup hasil pelajarannya saja. Yang akan menguatkan hubungan diantara manusia di kemudian hari. Hari masih panjang. Dan kita akan membutuhkan bagian dari diri kita. Lagi, dan akan terus lagi. Dialah shahabat.
Wallahu’alam bis shawab
_BagusKelana
Krapyak, 17 Muharam 1432H – 24 Desember 2010
14:40 WIB – GMT+7

Leave a comment
Comments feed for this article