Berapa waktu yang dibutuhkan oleh seorang manusia untuk tumbuh dan berkembang? Mengetahui apa yang semestinya diketahui. Menjalankan apa yang seharusnya dijalankan. Juga meninggalkan apa yang harus ditinggalkan. Saat itulah, manusia (mulai) menjadi manusia. Manusia yang seutuh-utuhnya penciptaan. Dan tentunya, menjadi dambaan manusia. Menjadi apa yang seharusnya terjadi.
Mr. Joko
Ada sebuah kisah yang cukup menarik. Terjadi hari ahad 2 Januari 2011. Bersama dengan teman-teman Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiyatul Aisyiyah, kami melakukan Malam Bina Iman dan Takwa atau akrab disebut Mabit, di sebuah pantai di Gunung Kidul bernama pantai Srandanan. Dari pantai Baron yang sudah cukup dikenal, masih kurang lebih 8 km ke arah timur. Pantai yang eksotis, layaknya sebagian besar pantai di Gunung Kidul. Ya. Ini ialah salah satu hadiah terindah bagi masyarakat Gunung Kidul. Pantai yang dibentengi dengan bukit Karst di sisi daratan, dan terhampar terumbu karang yang senantiasa diselimuti ombak yang cukup besar, khas pantai selatan.
Kami berangkat hari sabtu, menginap satu malam hingga ahad. Dan kisah ini dimulai hari ahad itu. Aku bertemu dengan seorang asing. Agak canggung, kumulai percakapan dengan topik, buku yang sedang ia baca. Kemudian pembicaraan meluas hingga asal usul kami. Dan barulah kutahu, ia orang Prancis. Padahal dialek Inggrisnya (kami mengobrol dengan bahasa umum, Inggris) cukup fasih dan jelas. Tapi memang pilihan katanya tidak terlalu banyak, jadi mudah kupahami. (Alhamdulillah). Aku menjelaskan apa itu Muhammadiyah. Bagaimana masyarakat Jogja pasca erupsi Merapi (dia juga relawan Merapi). Dan juga topik lainnya.
Sampai pada dia menceritakan tentang dirinya. Tentang negaranya. Bagaimana kebutuhan ekonominya tercukupi. Bagaimana ia merancang longtrip ke beberapa negara di Asia Tenggara. Mengapa memilihnya sebagai tujuan wisata. Indonesia-Thailand-Myanmar-dan beberapa negara Asia lainnya, menjadi deretan tujuan wisata baginya. Aku cukup heran, dengan betapa banyaknya agenda wisata yang mungkin agak melelahkan. Tapi kupikir, mungkin dibarengkan dengan agenda kerja atau lainnya. Seolah agenda wisata yang cukup panjang. Namun alasan yang disampaikannya cukup mengejutkanku. Baginya, berwisata merupakan momen yang ditunggu, untuk melepaskan beban hidup yang berat baginya. Ada beban-beban yang tak bisa dilepaskan begitu saja, selain melakukan wisata. Beban ekonomi, keluarga, ataupun tekanan dari tempat lain, membuatnya butuh melakukan perjalanan melepas penat.
Alasan ini benar-benar cukup mengejutkanku. Ia menambahkan (ternyata ia sudah punya istri). Istrinya membutuhkan lebih banyak wisata. Fisiknya yan tak sekuat pria, membutuhkan istirahat yang lebih banyak. Bahkan tak di tempat wisata ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar saja untuk tidur.
Ya, beban kehidupan yang menimpa setiap manusia memang tidak ringan. Semakin hari, tuntutan kehidupan membuat kita berfikir dan bekerja lebih baik lagi. Tentunya, orientasi yang semu bisa jadi membelokkan niat awal kita.
Kemudian, aku membayangkan dengan kondisiku. Sebagai seorang Muslim. Yang mempunyai kewajiban melaksanakan shalat 5 waktu, shaum Ramadhan, membayar zakat 2,5%, dan banyak ibadah sunnah lainnya. Boleh jadi, merupakan aktivitas yang nilai ekonomisnya jauh lebih ‘murah’ dibandingkan dengan melakukan perjalanan panjang tadi. Padahal, efek yang ditimbulkan sama. Yakni menghilangkan beban kehidupan yang tidak perlu, dan mendatangkan ketenangan. Bahkan, kami merasakan banyak hal lain dengan melakukan aktivitas-aktivitas tadi. Bersyukur.. banyak hal yang telah kita dapat, barang kecil, namun mungkin lupa disyukuri. Ya, syukur ialah perasaan ridha akan ketetapan Tuhannya.
Wallahu’alam
_BagusKelana
Krapyak, 30 Muharam 1432H – 7 Januari 2011
7am WIB – GMT +7

Leave a comment
Comments feed for this article