Membicarakan hal yang terjadi memanglah menarik. Banyak yang terjadi diluar rencana kita. Bahkan diluar pikiran kita. Mulai dari hal yang nyata-nyata membawa dampak positif, ataupun yang nampaknya merupakan dampak negatif. Layaknya berita gembira dan duka, silih berganti menghiasi pikiran dan hati kita. Skala pribadi, rumah tangga, kemasyarakatan, maupun hingga skala meluas nasional dan dunia. Semua kejadian tak luput mempengaruhi diri kita, disadari atau tidak. Maka, salah satu hal yang dapat kita lakukan pada akhir tahun ini ialah melakukan refleksi atau sekedar membuat Laporan Akhir Tahun, tentu dalam sudut pandang Masehi.
Refleksi Akhir Tahun
Berbeda ketika saya tak menggunakan pernyataan ‚sudut pandang Masehi’. Maka yang ada dibenak kita bisa mengglobal. Sudut pandang Masehi saya definisikan sebagai sudut pandang kepemimpinan. Bagaimana Masehi atau mungkin Gregorian, memimpin dunia kita sampai saat ini. Kacamata yang digunakannya akan menjelaskan dan berusaha mengambil pelajaran dari sudut pandang itu. Dan pada akhirnya akan memberikan kesimpulan yang, menurut saya, cukup pragmatis. Jangka pendek. Padahal? Kacamatanya tak sekedar itu. Manusia sangat beragam budayanya. Jauh lebih banyak dibanding yang bisa kita gambarkan. Dan mereka tentu membutuhkan pemimpin budayanya.
Januari hingga Desember 2010 ini telah terjadi sangat banyak hal. Boleh jadi akan membutuhkan waktu dan halaman yang lebih banyak untuk bisa mengurai cukup banyak. Namun itu belum saya lakukan disini. Saya mencoba mengangkat topik yang hangat di pikiran kita, yang cukup memberikan pengaruh pada diri kita, dan menjadikan perubahan kesuatu arah pada kehidupan kita. Benar. Sehebat apapun pemimpin zaman, takkan mampu sepenuhnya menggerakkan perubahan ke arah yang satu. Selama asas dasar belum dipahami dan ditaati. Karena manusia bukan robot yang dapat dikendalikan. Bahkan manusia takkan mampu memahami manusia tanpa petunjuk yang jelas dan dapat dipercaya. Ya, sekai lagi, manusia sendiri takkan pernah mampu memahami manusia.
Kejadian baik dan buruk yang silih berganti terjadi, disekitar kita maupun jauh terpisah gunung dan lautan. Ketika kita mencoba mengingatnya, apakah yang terjadi? Apakah yang terjadi pada diri kita? Apakah duka nestapa? Ataukah kepuasan? Bencana, misalnya. Ketika Gunung Merapi erupsi selama kurang lebih 2 bulan pada awal kuartal terakhir, saya pribadi mendapatkan pengaruh yang cukup besar. Rasa ingin tahu bercampur dengan empati. Tak ada yang tahu yang sebenarnya terjadi diatas sana. Berita radio dan televisipun tak mampu menghilangkan dahaga saya. Ditengah kebuntuan akan kebutuhan itu, jawabannyapun datang. Saya mendapatkan tugas dan kesempatan untuk lebih dekat dengan masyarakat yang lebih dekat tinggal dari Gunung Merapi. Ya, saya 26 km dari puncak Merapi, dibandingkan dengan warga Girikerto yang hanya 8 km dari puncak, misalnya. Ternyata dibanding memperhatikan Gunung yang erupsi, lebih menarik mencoba memahami masyarakat yang tinggal lebih dekat tadi. Perbedaan jarak dari Merapi menjadikan perasaan dan pandangan yang sangat berbeda diantara kami. Padahal, bagaimana kami memandang Gunung relatif sama. Gunung dengan definisi yang umum, dipahami sebagai makhluk yang memiliki ciri khas yang demikian luar biasa. Dan tentu saja. Meninggalnya juru kunci Mbah Maridjan ialah sebuah duka yang cukup mendalam. Analoginya, karena Gunung adalah juga sebuah makhluk, bagaimana manusia bisa berinteraksi dengannya? Melakukan rekreasi, pendakian, observasi maupun berkemah adalah kegiatan yang mungkin bisa dilakukan. Namun, bagaimana cara kita berkomunikasi. Ya, Mbah Maridjan beserta warga lereng Merapi adalah contoh bagaimana manusia yang telah begitu menyatu dengan makhluk yang bernama Merapi. Mereka hidup dari Merapi. Makan dan tinggal disana. Tentu komunikasi yang terbangun juga lebih baik. Meski tidak selalu menjamin. Namun ialah hal yang patut disimpulkan.
Bencana telah membawa banyak perubahan. Terutama paradigma berfikir kita. Tak layak bagi makhluk bernama manusia, memiliki jalan berfikir yang statis. Anti perubahan. Padahal bumi ini selalu berputar. Maka dari itu, dalam melihat duniapun juga mempersiapkan bagaimana perubahan-perubahan itu akan terjadi. Namun demikian, ada yang berkehendak perubahan yang lebih cepat, atau revolusi. Ataupun perubahan yang lebih lambat, atau evolusi. (nb. Begitu herannya saya dengan Darwinis, yang masih menjunjung teori evolusi. Disaat banyak teorinya telah terbantahkan).
Rasa Nasionalis, ialah perasaan yang membumbung tinggi pada akhir tahun ini. Bahkan hingga awal tahun depan. Dan perasaan itu menaiki kendaraan yang bernama Sepak bola. Luar biasa gaungnya. Mungkin layak untuk diteliti oleh berbagai sudut pandang ilmu. Bagaimana masyarakat Indonesia begitu menunggu momen ini. Lapangan hijau telah berubah menjadi rasa patriotis, dan mampu menggerakkan banyak kebuntuan. Bagaimana kesalnya masyarakat kita dengan Malaysia tatkala banyak kejadian kurang mengenakkan diantaranya. Tak perlulah menyebutkan kekurang enakan itu. Karena boleh jadi sudah tersimpan di benak kita. Namun yang menjadi luar biasa adalah, Sang Khaliq yang memiliki skenario yang begitu besarnya. Seolah perpecahan, kalau boleh dibilang seperti ini, justru direkatkan dengan suatu hal yang bernama Sepak bola. Kita lihat, bagaimana pertentangan kita tidak melebar. Urusan yang bisa menjadi serius, sebenarnya, namun direkatkan dengan pertandingan 2 x 45 menit. Naudzubillah, ketika melihat krisis korea. Saudara yang diadu menjadi permusuhan. Maka Indonesia versus Malaysia nampaknya menjadi pertandingan final sepak bola yang paling dramatis, selama saya tahu. Egonya memang sedikit berbeda ketika tahun 80-an dahulu, ketika Argentina versus Inggris di sepak bola juga, padahal kedua negara itu belum lama berperang.
Dan sekali lagi, luar biasa. Bagaimana cara Sang Khaliq untuk membuat kebaikan tersemai dimuka bumi. Apa yang kita butuhkan? Banyak hal. Namun, harapan agaknya menjadi Man of the match dalam pertandingan ini. Selamat bertanding Timnas.
Begitulah saya menuliskan refleksi akhir tahun ini. Berhubung masih terbawa dengan euforia Timnas, tidak saya lanjutkan tulisan ini.
=)
Wallahu’alam bis shawab
Krapyak, 18 Muharam 1432H – 25 Desember 2010
11:41 WIB – GMT+7

Leave a comment
Comments feed for this article